Skip to content

Ibu Sumber Kebahagiaan Keluarga

Jakarta – Setiap tanggal 22 Desember masyarakat Indonesia merayakan Hari Ibu. Tanggal tersebut bukanlah ditetapkan begitu saja, melainkan diambil dari sebuah peristiwa sejarah yaitu Kongres Perempuan Indonesia I yang dilaksanakan pada 22-25 Desember 1928 di Yogyakarta. 

Kemudian pada 1959, Presiden Soekarno secara resmi menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu Nasional melalui Keppres No. 316 Tahun 1959, hal ini untuk menghormati jasa para perempuan pejuang Indonesia.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera (DPD PKS) Jakarta Utara Arif Yusadli mengatakan, hari ibu menjadi momentum yang sangat tepat untuk melihat kembali betapa besarnya jasa dan peran seorang ibu dalam kehidupan anak-anaknya.

“Hal-hal kecil yang beliau ajarkan kepada kita ternyata sesuatu yang besar pengaruhnya dalam kehidupan kita. Doa mereka tak pernah putus, kasih mereka tak pernah berkurang. Ibu adalah manusia kuat dan mulia,” kata Arif, saat ditanya apa makna hari ibu baginya, Senin (22/12/2025).

Ketika ditanya apa kenangan yang tidak terlupakan baginya dari seorang ibu, dia mengatakan terlalu banyak kenangan yang tidak terlupakan bagi dirinya bersama ibu. “Saya sampai saat ini masih ingat aroma tangan beliau ketika memasangkan kancing baju saya waktu masih kecil,” ungkapnya.

Lebih jauh dia mengungkapkan, ibu mengajarkan dan memberikan kepercayaan baginya di saat sedang melakukan kegiatan, meskipun saat itu dirinya masih usia anak-anak. Mulai dari hal-hal kecil seperti mencuci piring, diajak berbelanja ke pasar untuk memenuhi kebutuhan rumah, memasak, dan lain-lain.

“Saya yang teringat lagi adalah ketika saya diajarkan langsung praktek menyembelih ayam, kemampuan yang tidak semua orang bisa melakukannya. Di setiap momentum penting kehidupan saya, ibu selalu hadir, memberi dukungan, perhatian, dan tentunya doa tulusnya,” tuturnya.

Arif mengemukakan, keluarga tangguh lahir dari anggota keluarga yang sehat, harmonis hubungannya dan menjalani kehidupan dengan bahagia. Dirinya sebagai seorang suami harus menjadi pelopor untuk merealisasikannya.

Sebagai suami, tambah Arif, harus bisa mempelopori pola hidup sehat, mengajak istri juga untuk menjaga pola hidup sehat, seperti mengajak berolahraga bersama. Contoh lainnya, diupayakan seorang suami memiliki kemampuan memberikan terapi untuk meringankan keluhan ketika istri sakit atau lelah, seperti kemampuan memijit, totok punggung dan lain-lain. Istri akan lebih senang ketika diterapi oleh suaminya. Menyehatkan dan membahagiakan. Sehingga seorang istri yang merupakan ibu dari anak-anak merasa bahagia.

“Perlu ada momen pergi berdua dengan istri, istri adalah ibu dari anak kita, ajak dia ke tempat makan atau jalan berdua. Kalau lagi ada waktu, nganterin ke acara pengajian, nemenin berolahraga, dan yang penting adalah mendukung dan memfasilitasi pengembangan diri para istri, sehingga semakin berdaya kegiatan dakwahnya di masyarakat,” ujarnya.

Arif mengungkapkan bahwa Ibu adalah sumber kebahagian keluarga, senyum ibu membuat semua anggota keluarga tersenyum. Ibu adalah madrasah pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya bagi anak-anaknya. 

“Terus mengajarkan dan menyontohkan kepada anak-anaknya tentang kesabaran, pengorbanan, ketulusan, tidak mementingkan diri sendiri, dan doa yang tidak pernah putus. Teruslah kuat, teruslah kembangkan diri supaya menjadi ibu yang hebat dan juga menjadi wanita yang berdaya di masyarakat,” paparnya.

Selain untuk para ibu, Arif juga berpesan kepada anak-anak khususnya Gen-Z, untuk selalu menyayangi ibu di setiap sisi kehidupan. Menurutnya, orang yang paling menginginkan kebahagian anak dan orang yang paling susah ketika sang anak mengalami kesusahan adalah ibu. Dalam keceriaan dan kebahagian setiap anak ada lelah seorang ibu. Di setiap perjalanan hidup anak-anak ada doa ibu yang tak pernah putus.

“Bahagiakan mereka dengan taatmu, dengan keberhasilanmu menjadi orang baik, dengan baktimu, dengan tutur kata baikmu, jaga nama baik mereka, sebut mereka dalam doamu, jangan lupa bantu juga kerjaannya rumah,” pungkasnya.