Jakarta – Seorang ayah harus bisa menyempatkan waktu untuk anaknya, sesibuk apapun aktifitas ayah, anak harus jadi prioritas. Demikian dikatakan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jakarta Utara Arif Yusadli, saat diwawancara oleh Forum Ayah Jakarta Utara, Sabtu (8/11/2025) lalu.
“Sempatkan sesibuk apapun untuk anak, misalnya ketika anak mengikuti sebuah pertandingan upayakan kita bisa hadir, ketika kita hadir di momen-momen yang menyenangkan untuk dia itu akan sangat bernilai untuk dia, akan berbekas dalam dirinya oh iya ayah hadir, ayah ada, ayah mengorbankan waktunya, dia tahu kita capek, tapi kita tetap hadir, ini yang harus kita siap untuk itu,” kata pria yang akrab disapa Arif Yus itu.
Dia memaparkan, ayah adalah central figur yang harus bisa jadi teladan, dan itu bisa dibangun dengan membangun kepercayaan. Kepercayaan anak terhadap ayahnya akan tumbuh ketika ayah dapat berkomitmen, misalnya ketika berjanji apapun harus ditepati.
“Karena kalau ke anak sudah janji terus tidak ditepati itu luar biasa bisa jadi hal yang sangat tidak baik, preseden yang tidak baik, kalau sudah janji harus diupayakan semaksimal mungkin harus dilaksanakan janji itu, kalau sudah ada trust, sudah ada kepercayaan anak, oh ayah kalau ada permasalahn dia bantu kok, dia hadir kok, ketika sudah trust, sudah ada kepercayaan anak insya Allah anak nanti mau ketika kita arahkan ke arah yang baik, keteladanan, anak bisa diarahkan ke arah yang lebih baik kalau ada keteladanan,” ujarnya.
Lebih lanjut Arif Yus bercerita, ia mengemukakan ada kisah yang menarik. Di India pernah ada seorang ibu yang anaknya mengidap penyakit yang sudah tidak boleh makan garam sama sekali, tapi ketika si ibu menyiapkan makanan tanpa garam sama sekali anaknya justru tidak pernah mau makan, dan dia sudah menasihati dengan berbagai cara si anak tetap tidak mau juga.
“Pokoknya ga mau makan, kalau tidak ada rasa garam tidak mau, lalu si ibu datang kepada Mahatma Gandhi, lalu si ibu bilang tolong nasihati anak saya, kata Mahatma Gandhi, dia belum bisa menasihati anak ibu sekarang, silakan pulang nanti satu minggu tolong kembali lagi ke saya, setelah satu minggu si ibu dan anaknya kembali lagi ke Gandhi baru dia memberi nasihat kepada si anak itu, untuk tidak makan garam, dan ternyata benar, anak itu menerima dan dia tidak mau makan garam lagi, beberapa hari kemudian si ibu kembali ke Gandhi dan bertanya apa sih nasihatnya kok anaknya tiba-tiba berubah, kata gandhi, saya sengaja minta waktu satu minggu dan selama satu minggu itu saya tidak makan garam, setelah saya tidak makan garam baru saya nasihati anak itu,” tuturnya.
Arif menjelaskan, kalau setiap orang yang sudah melakukan sesuatu, walaupun dia yang dinasihati tidak tahu dan tidak melihat, tapi kekuatan yang sudah dilakukan itu, berdampak kepada orang yang dinasihati, jadi menurutnya kalau ada orang tua menasihati anaknya dan ternyata susah untuk diberitahu, artinya yang menasihati harus introspeksi diri.
“Ayahnya harus menasihati dirinya terlebih dahulu untuk bisa berubah baru dia menasihati anaknya, iya introspeksi dulu, walaupun hasilnya berbeda beda, seperti Nabi Ibrahim, dan Nabi Nuh, kurang apa nabi Nuh, tetap saja anaknya durhaka,” pungkasnya.