Skip to content

Arif Yus: Seorang Ayah Memiliki Beberapa Ekspresi Cinta

Jakarta – Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Jakarta Utara Arif Yusadli mengatakan, seorang ayah memiliki beragam cara dalam mengekspresikan cintanya pada keluarga. Menurutnya, seorang ayah pasti mencintai keluarganya, akan tetapi dalam mengekspresikannya ayah memiliki cara yang berbeda-beda sesuai karakternya masing-masing.

Pertama, ekspresi dalam bentuk doa. Ekspresi ini semua ayah harus bisa melakukannya. Kalau dilihat dalam Al-Qur’an doa orang tua itu lebih banyak doa dari ayah. Salah satunya adalah doa Nabi Ibrahim. Doa Nabi Ibrahim sudah tercatat di dalam Al-Qur’an ketika mendoakan putranya, Ismail, dan ekspresi doa ini perlu juga dibaca dan disampaikan di depan anak, jadi anak merasa didoakan oleh ayahnya. Sebandel apapun si anak, bahkan sampai anak durhaka sekalipun, seperti kisah anak Nabi Nuh AS.

“Itu kan anaknya kan ga mau ikut dia, di saat-saat terakhir saat mau tenggelam itu, Nabi Nuh masih menyatakan cintanya, buktinya apa, buktinya Nabi Nuh masih memanggil “yaa bunayya”. “Yaa bunayya” ini adalah ungkapan cinta para nabi kepada anak-anaknya, bahasa cinta anakku dalam bahasa arab pakai “yaa bunayya”, Nabi Ibrahim kepada Ismail “yaa bunayya”, Luqman dalam surat Luqman juga ketika memberikan nasihat kepada anaknya “yaa Bunayya”, bahkan anak Nabi Nuh yang sudah membangkang tetap Nabi Nuh mengekspresikannya dengan “yaa bunayya irkam ma’ana”, wahai anakku naiklah ke perahu bersama kami, itulah cinta hakiki seorang ayah lewat doa dan lewat ajakan kepada yang lebih baik,” kata politisi PKS yang akrab disapa Arif Yus itu saat diwawancara oleh Forum Ayah Jakarta Utara, Sabtu (8/11/2025) lalu.

Kedua, lanjut Arif Yus, ekspresi cinta lainnya dalam bentuk aktifitas bekerja mencari nafkah. Dia menjelaskan, seorang ayah tidak perlu ditanya lagi saat sedang mencari nafkah dan bekerja keras dengan segala macam untuk memenuhi kebutuhan keluarga khususnya untuk anaknya, itu juga merupakan ekspresi cinta.

“Kemudian perlu juga seorang ayah menyediakan waktunya untuk mendalami karakter anak-anaknya, apalagi yang anaknya lebih dari satu, kan setiap anak beda-beda, dan dia berupaya juga menguasai apa yang disenangi anak-anaknya itu, jadi bermakna, misalnya dulu anak saya suka futsal, ya alhamdulillah saya juga suka futsal, jadi nyambung, kita futsal bersama, menemani dia latihan, menyediakan waktu, dan ketika dia ada pertandingan kita apresiasi, kalah atau menang, ini bentuk ekspresi cinta, sehingga melahirkan anak-anak yang percaya pada orang tuanya, bahwa orangtuanya itu bisa kok nemenin, orangtuanya itu perhatian kok,” tuturnya.

Selain itu, orang tua khususnya ayah juga harus punya wawasan yang luas. Ketika ada permasalahan dan ketika sedang duduk bersama anak-anak ayah bisa menjelaskan hal-hal yang terjadi saat ini, sehingga anak-anak akan merasa ayahnya adalah orang yang keren.

“Oh iya ayah keren, kalau sudah sampai ada kata-kata ayah keren itu luar biasa, seorang ayah itu harus mendapatkan kata keren dari anaknya. Jadi ini bentuk ekspresi cinta ayah yang semua ayah harus bisa melakukan ini, tapi mungkin bentuk ekspresinya beda-beda, tapi secara hakiki harus mencakup hal-hal itu, bisa hadir bersama anak-anaknya,” jelasnya.

Terkait ayah yang suka marah, Arif berpendapat, bahwa orang tua yang marah pada anaknya sebenarnya itu adalah bentuk ekspresi cinta juga, tetapi marah adalah bentuk cinta yang terburu-buru dan ingin cepat ada perubahan pada anak, padahal merubah anak itu butuh proses yang panjang.

Lebih jauh Arif menambahkan, bahwa merubah anak ke arah yang lebih baik tidak bisa dengan emosi, harus sabar dan butuh kasih sayang serta kelembutan. Menurutnya, kalau orang tuanya lembut, berkasih sayang, pasti anaknya akan nyaman bercerita, nyaman mengungkapkan permasalahan yang ada dalam dirinya. Karena marah merupakan cara yang salah dalam mengekspresikan cinta. Keinginan yang begitu besar untuk anak menjadi lebih baik dalam waktu yang singkat, anak jadi tidak mau percaya dan tidak mau bicara jika ada permasalahan, padahal kunci untuk membentuk anak-anak adalah komunikasi yang bagus.

“Seperti Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail saja, itu kan sebuah ungkapan yang sangat berat, Ibrahim bisa menyampaikan kepada Ismail karena komunikasinya bagus, dalam mimpi ingin menyembelih, membunuh, menghabisi kehidupan Ismail, tapi karena komunikasinya berjalan dengan baik, Ismail pun bisa menyikapi dengan baik, dia tahu ayahnya siapa, ayahnya nabi, kalau perintahnya harus diikuti, ketika anak sudah memahami peran ayahnya siapa ayahnya, dia bisa memahami, walaupun bertemu ayahnya sebentar tapi kualitasnya tinggi, kenapa, karena ayahnya punya kesibukan, kalau ayah bisa memposisikan diri seperti ini insya Allah ekspresi cintanya akan membantu perkembangan anaknya untuk tumbuh,” jelasnya.