Selamat Datang Di Website Resmi Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera Jakarta Utara - والحق منصور وممتحنٌ فلا تعجب فهذي سنة الرحمن - Kebenaran akan DITOLONG dan juga DIBERI UJIAN. - AR RAHMAN - Ibnul Qoyyim

Jumat, 25 November 2011

Sambut Hari Guru Nasional, PKS Ajak Kader Sowan Para Guru

Ketua PGRI Sulistyo
Pentingnya peran guru bagi kemajuan bangsa, mengilhami PKS Jatim menggerakkan kadernya untuk memuliakan guru. Mengambil tema Kader PKS Muliakan Guru, selama sepekan ke depan diharapkan kader-kader PKS menyempatkan diri sowan ke mantan-mantan guru mereka waktu sekolah di TK, SD, SMP atau SMA.

“Kami sangat yakin kesuksesan yang kini diraih para kader salah satunya adalah karena jasa para guru yang telah dengan luar biasa mengabdikan dirinya. Maka sowan kembali kepada para guru adalah cara kader untuk berterima kasih sekaligus mendapatkan keberkahan doa restu para guru”, kata Drh. H. Hamy Wahjunianto MM, Ketua DPW PKS Jatim. “Kader PKS sama sekali tidak boleh melupakan jasa besar guru-guru”, lanjutnya.
Di samping berterima kasih dan minta doa restu para guru, lanjut pria asli Blitar ini, sowan kepada para guru juga diharapkan sebagai sarana menyerap aspirasi guru-guru. “Guru itu pelaku utama pendidikan. Menentukan 75 % keberhasilan proses pendidikan. Maka sejatinya merekalah yang paling tahu permasalahan yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia yang harus diakui masih perlu perhatian lebih. Aspirasi beliau-beliau sangat penting untuk didengarkan”.
Aspirasi para guru yang ingin didengar PKS tak melulu berkaitan dengan masalah pendidikan, tapi juga masalah-masalah yang ada di masyarakat. PKS mencatat, umumnya para guru, terutama di daerah, adalah juga tokoh masyarakat yang berpengaruh. Jadi para guru tentu memahami permasalahan yang sedang terjadi di masyarakat. Masukan ini yang nantinya sebagai bekal bagi PKS untuk lebih memahami apa sebenarnya yang dibutuhkan masyarakat.
Di bagian lain, H. Hamy Wahjunianto juga menyesalkan terbitnya Surat Edaran Kemediknas bernomor 088209/A.C5/KP/2011 berkaitan dengan penghentian tunjangan profesi pendidik (TPP) bagi guru tidak tetap (GTT) dan guru honorer. Menurutnya, meski dari segi tujuan bisa dinilai baik, tapi dari sudut momentum dirasa sangat tidak tepat.
“Ini seperti kado tak menyenangkan yang diberikan tepat di hari guru. Momentumnya tidak indah”, katanya.
Meski tidak menutup mata pada fakta di lapangan penyaluran TPP ada yang dinikmati oleh oknum yang dianggap kurang berhak menerima, juga adanya guru-guru penerima TPP yang justru tidak meningkat kinerjanya, bahkan ada yang melakukan tindakan amoral, mestinya Kemendiknas melakukan terlebih dahulu evaluasi menyeluruh pada pelaksanaan programnya. Dari hulu ke hilir. Sehingga tidak melakukan pembenahan yang sifatnya parsial. 
“Prosedur pemberian TPP harus diperbaiki. Pihak-pihak yang berwenang untuk memberikan juga mesti dibenahi. Mekanismenya harus jalan dengan baik. Jangan ada kesan, prosedurnya yang belum jalan dengan baik, guru-guru yang akhirnya jadi korban”, pungkas Hamy Wahjunianto.(AA)

0 comments:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites